Skip to main content

Posts

Di balik Pemecatan Riedl

Riedl Mencintai Indonesia Sebenarnya apa salah Alfred Riedl sampai dipecat? mungkin satu-satunya kesalahan pelatih asal Austria itu adalah, gagal membawa tim nasional Garuda menjuarai AFF. Saat itu, meski tampil gemilang dari babak penyisihan grup, Riedl gagal membuat happy ending karena kalah oleh Malaysia di partai puncak. Namun, Riedl yang dikenal dingin meski anak asuhnya berhasil mencetak gol sebenarnya telah mencatatkan namanya di hati penggemar sepakbola tanah air. Ia bersama asistennya, Wolfgang Pikal memberikan apa yang telah lama dinanti Pecinta bola merah putih. Sudah lama timnas tidak bermain dengan semangat seperti itu, sudah lama timnas tidak berlaga di final, sudah lama timnas tidak mengalahkan Thailand. Riedl? Ia mampu.. Namun, pasca runtuhnya era Nurdin Halid, jasa Riedl seperti terlupakan. Riedl mulai 'tidak dianggap' lagi sejak PSSI tengah dibelit masalah kongres yang berlarut-larut. Sosok dinginnya Riedl Setelah Nurdin resmi diberhentikan...

Payung Pinjaman

Perasaanku tidak nyaman. Gelisah, gundah, dan resah. Teguran dan peringatan dari supervisor atas keterlambatanku yang sudah berjumlah sepuluh pun tidak terpikir sama sekali.  Aku hanya memikirkan anak itu. Anak kecil yang telah kusewa payungnya. Pasti dia dimarahi ibunya atau siapa pun orang yang mengasuhnya. Payung yang kubawa ini pasti penting baginya, apalagi sekarang hujan lagi. Anak itu pasti tidak bisa bekerja seperti biasanya. Ah, bodoh sekali aku! Tapi, apa yang harus kulakukan? Di mana harus kukembalukan payung ini? Pagi tadi, aku sangat panik dan kacau. Bahkan, pikiranku seperti telah mendahului raga sampai ke kantor. Kepanikanku tidak terjadi sekali. Hari ini, tepat yang kesepuluh kalinya aku terlambat lebih dari setengah jam. Supervisor yang super disiplin waktu itu pun sepertinya sudah sulit mengeluarkan kata maaf. Hujan deras yang mengguyur pagi itu melengkapi carut-marut Jakarta yang tampak seperti foto slide daripada video streaming. Untung ada anak kecil yang men...

--Anakku, ini Ibumu--

“Cepat! Keluar! Tembak semua yang memberontak!,” perintah seorang anak presiden kepada tentaranya. Anak presiden itu mengomandani tentara bayaran yang direkrut dari negara-negara tetangga, tentunya negara yang tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi si tentara. Uang ternyata menjadi alasan yang kuat untuk membutakan perasaan tidak tega dan mengubur jiwa manusiawi sang tentara bayaran tersebut. Tanpa memikirkan adanya siksa api neraka, tentara bayaran yang mayoritas masih muda itu menembaki pemberontak pembela kemerdekaan dengan membabi buta. Bukan peluru karet melainkan senapan mesin dan bazooka yang mereka gunakan untuk menyapu barisan pembela keadilan dan kebenaran, siapa lagi kalau bukan rakyat. Ironisnya, tidak semua orang kejam tak ber-“peri”-kemanusiaan itu adalah tentara bayaran. sebagian diantaranya merupakan putra bangsa yang sedang kacau balau, carut marut, hancur lebur tidak karuan karena sistem pemerintahan yang bobrok dan kotor. Anak negeri yang diharapkan akan men...