Skip to main content

Posts

Showing posts with the label CerTig

Kecelakaan

Cerita Tiga Paragraf "Woooyy majuu!!" bentak Arga ke arah kerumunan orang yang membuat laju kendaraannya terhambat. Entah kenapa, tidak biasanya jalanan ini macet. Setelah perlahan maju, sampailah Arga di kerumunan orang yang berhenti sembarangan. Tidak peduli bahwa kendaraan mereka diparkir seenaknya. Sepertinya ada kecelakaan. Maut Tak Diundang Setidaknya begitulah dugaan kuat yang terbesit dibenaknya setelah melihat ada motor ringsek yang tergeletak. Arga kesal dengan pikiran banyak orang di sana. Menurutnya, korban kecelakaan itu tidak seharusnya hanya ditonton. Apalagi, melihat kondisi motor, sepertinya korban tewas. Tapi yang ada, orang-orang yang lewat, terutama pengendara motor, berhenti dan parkir sembarangan untuk menonton korban kecelakaan. Akhirnya, meski kesal, Arga telah melewati titik penyebab kemacetan terjadi. Sambil mengucap kasar, Arga tancap gas cepat ke rumahnya. Baru saja sampai depan pagar, tetangganya yang sudah seperti saudara dekat mengha...

Bendera dan Lebaran

Cerita Tiga Paragraf Hanya Indah Saat Berkibar?? "Pas..hampir aja," keluh si pedagang bendera di siang hari yang nampak seperti sore jelang magrib karena hujan turun begitu lebatnya. Dagangannya, bendera merah putih dan umbul-umbul berbagai warna, lepek semua, tanpa sisa. Lalu, apa yang dimaksud si pedagang dengan hampir saja? Sejumlah sembako dan kue-kue Lebaran yang diperolehnya dari seseorang tak dikenal, yang pasti pengendara motor. Eh..bukan seseorang, tapi dua orang. Mungkin pasangan suami-istri. Hampir saja turut basah. Pak Wardi, nama pedagang bendera itu, mengamankan pemberian orang baik tadi dari tetesan bocor atap halte, tempat ia berteduh. Sementara bendera-benderanya? dibiarkan bersama hujan di tepi jalan. Ya mau bagaimana lagi, gerobaknya tidak bisa ikut berteduh. Saat itu, Pak Wardi hanya fokus ke dua kantong plastik pembungkus kue dan sembakonya. Karena basah, sepertinya Pak Wardi akan langsung pulang. Pikirnya, jual bendera kering yang berkibar saja ...

Perempuan dan Bayi

Cerita Tiga Paragraf Aku langsung injak rem, mobil pun seketika berhenti. Perhatianku teralih ke seorang ibu yang jatuh, tak jauh dari Nissan March tungganganku. Tak pikir panjang, aku keluar, lalu menghampiri ibu yang tampak berusia sekitar setengah abad. Makin miris, ibu tua itu menggendong seorang bayi. Tangis pun tak kuasa dibendung si bayi, sementara sang ibu berusaha menenangkannya setelah--meski aku bantu--susah payah bangkit. Di sela-sela tangis bayi aku bertanya, "Ibu tak apa? Kasihan bayinya.." Sambil membenarkan ikatan kain tipis yang menjadi selimut bayinya, ibu tua itu menjawab, "Tak apa-apa, Non. Tadi ibu terpeleset. Tapi, ini bukan bayi ibu, Non. Bayi ini ibu ambil dari pinggir kali sana." Aku diam. Tak tahu harus berkata apa. Entah apa nama rasa ini. Sedih? Iba? Prihatin? Kagum? Entahlah. Aku hanya diam. "Ibu..ibu bisa merawatnya?" tanyaku. Sesaat aku berkata bodoh di dalam hati, menyesali pertanyaan macam apa yang kulontarkan t...

Bertahan Hidup

 Cerita Tiga Paragraf "Bang, kenapa memilih jadi pembunuh bayaran? Kenapa harus jadi pembunuh? Banyak cara mencari sesuap nasi, Bang," tanya seorang adik kepada abangnya yang hendak pamit untuk 'bekerja'. Sambil berpamitan, sang Abang memberikan sejumlah uang yang dikeluhkan adiknya kepada Tuhan. Si Abang, tidak sepertinya adiknya yang beristri dan beranak tiga. Ia merasa sudah puas mampu menjalankan amanat almarhum orangtuanya: menjaga dan merawat adiknya. "Aku gak mau uang ini, Bang. Kasian anak aku kalau harus minum susu dari uang ini," demikian sang Adik menolak dengan pesan larangan yang tersirat. "Aku juga ingin Abang tetap hidup, berkeluarga, dan bekerja layaknya orang banyak. Jangan main-main dengan bahaya, Bang" lanjutnya. Dunia ini menawarkan kekerasan. Abang ini hanya menelannya saja," terang sang Abang. "Lagipula, kalau sudah dalam zona perang ini, hidup dan mati itu bedanya tipis," lanjutnya dengan tatapan k...

Hanya Bayangan

Cerita Tiga Pargraf "Tuhan, masih hidupkah, kau?" demikian Jono menyelipkan 'doanya'. Entah siapa yang ia tanya, siapa yang ia sapa, siapa yang ia pinta.Ia tampak kecewa lantaran usahanya tak kunjung berbuah. Jono seorang yang taat. Ia pun percaya dan berfilosofi bahwa doa plus usaha itu ramuan manjur nan jitu. Ia pun lantas berdoa dan berusaha semampunya. Sambil menunggu hasil, ia pun membayangkan tahapan selanjutnya. Rencana demi rencana disusun rapi dalam benaknya. Ia merasa yakin. Doa sudah, usaha pun terlihat. Namun, hingga tahun kedua, mimpinya tak kian menunjukkan tanda-tanda akan datang. Modal dan dana tak terduga sudah habis. Ia kecewa, sedih, marah, kesal, tak berdaya dengan bangkrutnya. Masa depan di mimpinya berubah, tak sesuai harapan. Bayangannya tetap menjadi bayangan.

Benar Salah

 Cerita Tiga Paragraf Setelah Pak Rasyid, dosen Sejarah Kesusastraan Indonesia, menerangkan panjang lebar, ia lalu melontarkan pertanyaan pada kelasku. "Kalian tahu kan, penulis roman Azab dan Sengsara?" tanya dosenku itu sambil tersenyum. Tak asing. Roman ini sepertinya pernah kubaca sinopsisnya sepintas. Dalam hati kuberpikir roman ini dibuat jauh sebelum 1945. Sambil memegang kepala dan memejamkan mata, aku berusaha mengingatnya. "Sepertinya sastrawan angkatan 20," gumamku pelan. Merari.. Merari.. Merari Siregar! Yah, Merari Siregar. Merari Siregar Tapi, apa benar ya? Ketidakyakinanku dominan di pikiran. Inginku angkat tangan dan menyebutkan jawabanku, tapi aku takut salah, pasti memalukan. Benar tidak, ya? Aduh. Dan akhirnya, "Masa kalian tidak tahu?" keluh dosenku. "Ck..aduh, kalian ini. Apa sih yang kalian baca? Pengarangnya itu Merari Siregar!"

Pesta Natal Itu

Cerita Tiga Paragraf "Tadi dari mana, Mah?" tanya Chrisna ke ibunya. "Natalan. Kamu ke mana? kok, ga ikut? malah pergi sama dia," balas dan keluh ibunya. Sempat bingung, Chrisna dengan lagak tenang menjawab, Tadi jenguk teman, nah pulangnya bareng Fatma" Kamu tahu? Tadi banyak yang cari kamu, tapi Ibu bilang kerja sampai malam. Eh, ternyata malah pergi senang-senang sama anak Haji itu," ujar sang Ibu kesal. Chrisna hanya diam, terpaku mendengar amarah bundanya yang spontan berlinang air mata keccewa. Setelah kepergok di jalan oleh orangtuanya, Chrisna tidak langsung pulang. Ia mampir sebentar beli martabak favorit ayahnya. Namun, "Papa kok nggak keluar kamar, Mah?" tanya Chrisna. "Ya, buat apa? Papa kecewa sama kamu. Lagipula Papa-Mama kenyang habis pesta Natalan tadi," jelas ibunya.  

Aku Ingin

Cerita Tiga Paragraf "Mari kita 'toast' minuman untuk merayakan hari penting ini. Semoga apa yang sudah baik di 2011, semakin baik di 2012. Dan, apa yang buruk, tidak akan ada lagi. Bagaimana kalau tiap orang mengucapkan harapan, doa, atau mimpi yang ingin digapai di 2012? Biar kita saling tahu dan bantu cita-cita kita," ucap Rendy jelang Tahun Baru di sebuah kafe bilangan Bogor. Sembilan sahabatnya pun setuju sambil tertawa dan saling pandang. Satu per satu keinginan yang ditutup dengan 'Amin' diucapkan sahabat-sahabat kecil Rendy. Ada yang ingin lulus kuliah, cepat dapat kerja, atau pun naik jabatan di kantornya. Sebelum giliran Rendy, putaran doa sudah sampai ke Rissa. Wajahnya tampak bingung dengan tatapan kosong. Rendy lalu menepuk pundak Rissa dan mengingatkan bahwa sekarang sudah gilirannya. Dengan datar tanpa ekspresi sambil melihat ke atas, Rissa berkata, "Aku ingin kiamat di 2012."

Kosong

Cerita Tiga Paragraf "Silakan Bapak dan Ibu memindahkan barang-barang penting yang bisa dibawa. Seperti yang sudah kami peringatkan, tanah ini milik pemerintah dan dilarang keras mendirikan bangunan apapun," ujar seorang petugas berseragam cokelat. Meski diancam dengan buldozer, para pedagang yang membangun toko kecil di lahan kontroversi itu tak segera pergi dari sana. Dengan membentuk barisan pagar manusia, mayoritas pedagang makanan itu bersikeras mempertahankan usaha toko kecil mereka. Namun, apalah daya yang bisa dilakukan pedagang tanpa surat-surat itu. Setelah sempat adu argumen dan fisik, mereka yang kalah jumlah pun harus merelakan tokonya rata dengan tanah. Hanya sedikit barang yang bisa diselamatkan. Sambil tergopoh-gopoh, seorang pemuda dari kalangan pedagang, dengan lantang dan isak tangis yang tak tertahan, bertanya ke arah petugas. "Mau dibangun apa lahan ini? Kapan? Nanti? Besok? Tidak bisa nunggu kami mengeluarkan dagangan?" ujarnya.

Bingung Harus Apa

Cerita Tiga Paragraf Setelah menyusuri jalan yang ia lalui, akhirnya Doni menyerah. Tidak hanya uang, tetapi ATM, kartu kredit, dan dokumen penting lainnya lenyap bersama tas yang jatuh dari motornya itu. Doni menyesal tidak sadar bahwa tasnya yang disangkutkan di motor telah jatuh di jalan. Mungkin, bukan uang atau kartu yang membuatnya terpukul, tapi file penting--nasib seribu karyawan kantornya. Ia duduk lemas di halte, memandangi motor yang jauh dari cukup untuk mengganti semua kerugian di depan mata. Tiba-tiba, dengan napas setengah hilang, seorang pria berpakaian lusuh menghampiri Doni. "Pak..Pak," ujar bapak paruh baya itu. "Ini tas Bapak kan?" Tanyanya sambil menyerahkan koper hitam kepada Doni. Doni langsung menerimanya, membukanya, dan mengeceknya. Semua lengkap. Doni tidak tahu harus berbuat apa, berkata apa, dan beri hadiah apa. Hanya uang yang terpikir di benaknya. Lima lembar seratus ribu rupiah disodorkan ke bapak penyelamatnya itu. Namun, ba...

Foto

Cerita Tiga Paragraf "Bisa nyetir gak sih!!" Bentak seorang pengendara motor yang tersenggol mobil di sampingnya. Keadaan malam itu macet parah disertai gerimis. Baru pulang lembur, Anto, si pengendara motor, berusaha meredam emosinya setelah sadar bahwa yang dibentaknya ternyata seorang wanita tua, mungkin juga seorang ibu. Ia lalu kembali mengenakan helmnya. Setelah berdiam sejenak, ibu itu membalas bentakan Anto. "Rangga? Ranggaaa..," Teriak ibu itu yang langsung keluar dari mobilnya. Anto sontak bingung, siapa Rangga? "Kamu Rangga, nak..," ucap ibu itu sambil mendekatinya. Karena kejadian tersebut di tengah jalan, klakson dari kendaraan lain pun tak terhindarkan. Amarah, bingung, dan tak nyaman diklaksoni, Anto memutuskan pergi meninggalkan ibu itu. "Ranggaaa, ini Ibu. Jangan Pergi!!" teriak sang pengendara mobil ke arah Anto yang menjauh. Dengan tidak menghiraukan klakson dan makian orang lain, ibu itu masuk dan memindahkan mobilny...

Dengan Seragam SMA

Harapan Bangsa Cerita Tiga Paragraf "Sip, sudah rapi," ujar Dino, seorang anak berusia 16 tahun yang tinggal bersama gelandangan lain. Dino asyik bercermin sambil menata pakaiannya, seragam SMA. Dengan baju putih, celana abu-abu, sepatu hitam, dan tas gemblok kuning, anak berkulit sawo matang itu pun hendak keluar dari rumah tripleknya. Bergabung dengan anak sekolah lain, Dino berdiri di pinggir jalan, menunggu mobil. Satu per satu siswa sekolah di sekitar Dino mulai menaiki tumpangannya. Ada yang lari-lari mengejar bus, menggantung di pintu angkot, dan naik ojek karena takut terlambat. Setelah lumayan sepi, hanya tinggal beberapa calon penumpang yang didominasi pekerja, Dino mulai turun dari trotoar dan memasuki bahu jalan. Anak yatim piatu, gelandangan di Jln. Prof. Dr. Satrio itu mengacungkan telunjuk tangannya ke arah mobil-mobil yang melintas. Ia berharap ada orang yang mau memakai jasanya untuk menjadi seorang Joki 3 in 1.

Nafsu Sesat

Cerita Tiga Paragraf "Ayo, Neng ikut aja..," ajak si supir. Rani, karyawati salah satu mal di kawasan Jakarta Selatan spontan membalas, "makasi, Bang..saya ke arah Pasar Rebo." Sang supir angkot tidak menyerah. Dengan dalih bahwa angkotnya juga mengarah ke tujuan yang sama, ia kembali menawarkan gadis itu untuk naik. Setelah berpikir satu kali, Rani, 26 tahun, pun percaya. Ia naik sembari membenarkan rok ketatnya. Tidak lama, tiga orang pria naik angkot tersebut. Seorang di antaranya tiba-tiba menutup pintu dan mematikan lampu dalam. Rani yang sudah dipegangi dua penumpang lainnya berusaha berontak sekuat tenaga. Tanpa diduga, Rani cukup kuat membuat tiga pria itu kewalahan. Kalah jumlah, Rani akhirnya tak berkutik. Satu per satu pakaian Rani dilucuti. Setelah tubuh Rani tinggal ditutupi bra dan celana dalam, satu pria yang ternyata sudah bugil langsung menerjangnya. Dengan penuh nafsu, pria pemerkosa itu menarik celana dalam Rani. "Busyet!!!," teri...

Percuma

Cerita Tiga Paragraf "Eh, lo biasa aja dong mukanya, gak usah songong di daerah gua!", ujar seorang siswa kepada wartawan yang berdemo di depan sekolahnya. Wartawan itu bermaksud meminta pertanggungjawaban pihak sekolah sekaligus mencari oknum siswa yang melakukan pemukulan terhadap pewarta berita di hari sebelumnya. Wartawan, Siswa, dan Keamanan "Wartawan pulang aja! Ga usah buat masalah di sini," teriak salah satu siswa lainnya. Meski didesak, pihak kuli tinta yang kalah jumlah tersebut tetap mengusung jalan damai dan berusaha tidak larut dalam emosi. Kepada polisi, Wartawan minta pihak berwenang menindak aksi brutal siswa SMA tak berbudi itu yang kembali menyerang pendemo. Di tengah kericuhan, tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari kubu siswa, "Percuma lo pake polisi, bapak gua Jenderal!".

Payung Pinjaman

Perasaanku tidak nyaman. Gelisah, gundah, dan resah. Teguran dan peringatan dari supervisor atas keterlambatanku yang sudah berjumlah sepuluh pun tidak terpikir sama sekali.  Aku hanya memikirkan anak itu. Anak kecil yang telah kusewa payungnya. Pasti dia dimarahi ibunya atau siapa pun orang yang mengasuhnya. Payung yang kubawa ini pasti penting baginya, apalagi sekarang hujan lagi. Anak itu pasti tidak bisa bekerja seperti biasanya. Ah, bodoh sekali aku! Tapi, apa yang harus kulakukan? Di mana harus kukembalukan payung ini? Pagi tadi, aku sangat panik dan kacau. Bahkan, pikiranku seperti telah mendahului raga sampai ke kantor. Kepanikanku tidak terjadi sekali. Hari ini, tepat yang kesepuluh kalinya aku terlambat lebih dari setengah jam. Supervisor yang super disiplin waktu itu pun sepertinya sudah sulit mengeluarkan kata maaf. Hujan deras yang mengguyur pagi itu melengkapi carut-marut Jakarta yang tampak seperti foto slide daripada video streaming. Untung ada anak kecil yang men...

--Anakku, ini Ibumu--

“Cepat! Keluar! Tembak semua yang memberontak!,” perintah seorang anak presiden kepada tentaranya. Anak presiden itu mengomandani tentara bayaran yang direkrut dari negara-negara tetangga, tentunya negara yang tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi si tentara. Uang ternyata menjadi alasan yang kuat untuk membutakan perasaan tidak tega dan mengubur jiwa manusiawi sang tentara bayaran tersebut. Tanpa memikirkan adanya siksa api neraka, tentara bayaran yang mayoritas masih muda itu menembaki pemberontak pembela kemerdekaan dengan membabi buta. Bukan peluru karet melainkan senapan mesin dan bazooka yang mereka gunakan untuk menyapu barisan pembela keadilan dan kebenaran, siapa lagi kalau bukan rakyat. Ironisnya, tidak semua orang kejam tak ber-“peri”-kemanusiaan itu adalah tentara bayaran. sebagian diantaranya merupakan putra bangsa yang sedang kacau balau, carut marut, hancur lebur tidak karuan karena sistem pemerintahan yang bobrok dan kotor. Anak negeri yang diharapkan akan men...