Skip to main content

Hanya Bayangan

Cerita Tiga Pargraf


"Tuhan, masih hidupkah, kau?" demikian Jono menyelipkan 'doanya'. Entah siapa yang ia tanya, siapa yang ia sapa, siapa yang ia pinta.Ia tampak kecewa lantaran usahanya tak kunjung berbuah.

Jono seorang yang taat. Ia pun percaya dan berfilosofi bahwa doa plus usaha itu ramuan manjur nan jitu. Ia pun lantas berdoa dan berusaha semampunya. Sambil menunggu hasil, ia pun membayangkan tahapan selanjutnya. Rencana demi rencana disusun rapi dalam benaknya.

Ia merasa yakin. Doa sudah, usaha pun terlihat. Namun, hingga tahun kedua, mimpinya tak kian menunjukkan tanda-tanda akan datang. Modal dan dana tak terduga sudah habis. Ia kecewa, sedih, marah, kesal, tak berdaya dengan bangkrutnya. Masa depan di mimpinya berubah, tak sesuai harapan. Bayangannya tetap menjadi bayangan.


Comments

Popular posts from this blog

Nafsu Sesat

Cerita Tiga Paragraf "Ayo, Neng ikut aja..," ajak si supir. Rani, karyawati salah satu mal di kawasan Jakarta Selatan spontan membalas, "makasi, Bang..saya ke arah Pasar Rebo." Sang supir angkot tidak menyerah. Dengan dalih bahwa angkotnya juga mengarah ke tujuan yang sama, ia kembali menawarkan gadis itu untuk naik. Setelah berpikir satu kali, Rani, 26 tahun, pun percaya. Ia naik sembari membenarkan rok ketatnya. Tidak lama, tiga orang pria naik angkot tersebut. Seorang di antaranya tiba-tiba menutup pintu dan mematikan lampu dalam. Rani yang sudah dipegangi dua penumpang lainnya berusaha berontak sekuat tenaga. Tanpa diduga, Rani cukup kuat membuat tiga pria itu kewalahan. Kalah jumlah, Rani akhirnya tak berkutik. Satu per satu pakaian Rani dilucuti. Setelah tubuh Rani tinggal ditutupi bra dan celana dalam, satu pria yang ternyata sudah bugil langsung menerjangnya. Dengan penuh nafsu, pria pemerkosa itu menarik celana dalam Rani. "Busyet!!!," teri...

Payung Pinjaman

Perasaanku tidak nyaman. Gelisah, gundah, dan resah. Teguran dan peringatan dari supervisor atas keterlambatanku yang sudah berjumlah sepuluh pun tidak terpikir sama sekali.  Aku hanya memikirkan anak itu. Anak kecil yang telah kusewa payungnya. Pasti dia dimarahi ibunya atau siapa pun orang yang mengasuhnya. Payung yang kubawa ini pasti penting baginya, apalagi sekarang hujan lagi. Anak itu pasti tidak bisa bekerja seperti biasanya. Ah, bodoh sekali aku! Tapi, apa yang harus kulakukan? Di mana harus kukembalukan payung ini? Pagi tadi, aku sangat panik dan kacau. Bahkan, pikiranku seperti telah mendahului raga sampai ke kantor. Kepanikanku tidak terjadi sekali. Hari ini, tepat yang kesepuluh kalinya aku terlambat lebih dari setengah jam. Supervisor yang super disiplin waktu itu pun sepertinya sudah sulit mengeluarkan kata maaf. Hujan deras yang mengguyur pagi itu melengkapi carut-marut Jakarta yang tampak seperti foto slide daripada video streaming. Untung ada anak kecil yang men...

--Anakku, ini Ibumu--

“Cepat! Keluar! Tembak semua yang memberontak!,” perintah seorang anak presiden kepada tentaranya. Anak presiden itu mengomandani tentara bayaran yang direkrut dari negara-negara tetangga, tentunya negara yang tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi si tentara. Uang ternyata menjadi alasan yang kuat untuk membutakan perasaan tidak tega dan mengubur jiwa manusiawi sang tentara bayaran tersebut. Tanpa memikirkan adanya siksa api neraka, tentara bayaran yang mayoritas masih muda itu menembaki pemberontak pembela kemerdekaan dengan membabi buta. Bukan peluru karet melainkan senapan mesin dan bazooka yang mereka gunakan untuk menyapu barisan pembela keadilan dan kebenaran, siapa lagi kalau bukan rakyat. Ironisnya, tidak semua orang kejam tak ber-“peri”-kemanusiaan itu adalah tentara bayaran. sebagian diantaranya merupakan putra bangsa yang sedang kacau balau, carut marut, hancur lebur tidak karuan karena sistem pemerintahan yang bobrok dan kotor. Anak negeri yang diharapkan akan men...